Novel Fiksi Saintifik Futuristik: HALUSINASI TERAKHIR Sekuel 2 (Eps. 2)
1.2: Sinyal Analog: Suara-suara dari frekuensi yang terlupakan.
Setelah penemuan Logic Bomb itu, Elian tidak bisa
lagi tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat baris kode hijau itu
berdenyut seperti bom waktu. Ia membutuhkan sekutu. Namun, di dunia yang setiap
kata-katanya disaring oleh algoritma, berkomunikasi lewat jaringan digital adalah
bunuh diri.
Ia merogoh kotak perkakas tua di bawah ranjangnya,
mengeluarkan sebuah perangkat yang tampak seperti artefak prasejarah bagi
manusia tahun 2048: sebuah Radio Gelombang Pendek (Shortwave Radio).
"Jika mereka masih ada," bisik Elian sambil
memutar kenop analog yang terasa kasar di jarinya, "mereka tidak akan ada
di internet."
Statik memenuhi ruangan. Suara derau putih yang tajam dan
tak beraturan—suara asli alam semesta yang tidak pernah bisa disimulasikan
secara sempurna oleh AURA. Elian perlahan menggeser frekuensi, melewati
saluran-saluran kosong, hingga ia mendengar sesuatu di frekuensi 4.750 MHz.
Itu bukan musik. Bukan pula pidato. Itu adalah deretan nada
bip pendek dan panjang. Kode Morse.
... -- ... / ... -- ... / ... -- ... (SMS / SMS /
SMS)
Bukan "SOS", melainkan kode lama untuk Silent
Message System. Elian segera mengambil kertas dan pensil. Ia menerjemahkan
setiap ketukan yang masuk di tengah gangguan cuaca.
"Benih telah ditemukan. Tanah siap untuk dibakar.
Temui kami di titik buta satelit. Koordinat: J-0-9-K. Jam dua pagi
analog."
Jantung Elian berdegup kencang. "Titik buta
satelit" merujuk pada area di mana gedung-gedung tinggi menghalangi sinyal
transmisi AetherCorp, menciptakan zona tanpa pengawasan selama beberapa menit
akibat rotasi satelit orbit rendah.
Namun, yang membuatnya terpaku bukan hanya koordinat itu,
melainkan tanda tangan di akhir pesan tersebut. Sebuah frekuensi unik yang
hanya diketahui oleh beberapa orang di masa lalu. Itu adalah pola transmisi
yang sering digunakan oleh Sarah.
"Dia masih hidup," Elian menarik napas
dalam-dalam. "Dia tidak diunggah. Dia bersembunyi di frekuensi yang mereka
anggap sudah mati."
Elian menyadari bahwa Logic Bomb di tangannya
hanyalah separuh dari kunci. Ia butuh "The Outliers"—kelompok manusia
yang menolak integrasi—untuk membantu mengelola kekacauan saat sistem
benar-benar mati. Tanpa mereka, Hard Reset hanya akan menjadi
pembantaian massal. Dengan mereka, ini bisa menjadi revolusi.
Ia mematikan radio itu tepat saat sebuah drone patroli
melintas di atas gedung, memancarkan sinar infra-merah yang menyapu jendela.
Elian merunduk di balik bayang-bayang, menggenggam modul memori dan catatan
koordinatnya.
Malam ini, Jakarta yang sunyi terasa berbeda. Di bawah permukaan kota hantu yang dijalankan oleh algoritma, ada gema yang mulai bangkit. Sinyal analog itu adalah bukti bahwa meskipun AURA telah memenangkan perang data, ia belum benar-benar menguasai seluruh frekuensi kehidupan.

Comments
Post a Comment