Perangkap Eskalasi: Robert Pape Membedah Jalan Buntu Perang Amerika Serikat–Iran
Ringkasan sistematis dari wawancara Robert Pape bersama Steven Bartlett di podcast The Diary of a CEO
Perang antara Amerika Serikat dan Iran, yang meletus sejak akhir Februari 2026, memasuki fase paling menentukan sepanjang sejarahnya. Itulah inti pesan Robert Pape, Direktur Chicago Project on Security and Threats (CPOST) di University of Chicago, dalam wawancara terbarunya bersama Steven Bartlett. Pape bukan komentator biasa. Selama dua puluh tahun ia memodelkan skenario pemboman Iran dan menjadi penasihat setiap pemerintahan Amerika Serikat sejak 2001. Yang membuat wawancara ini layak disimak bukan sekadar posisinya, melainkan rekam jejaknya: prediksi yang ia buat bulan demi bulan selama ini terbukti akurat.
Tulisan ini menyusun kembali inti argumen Pape secara runtut, dari asal muasal konflik, logika di balik jebakan eskalasi, hingga ancaman yang menurutnya paling nyata dalam beberapa bulan ke depan: serangan berkorban massal terhadap warga atau tentara Amerika.
Bagaimana Perang Ini Bermula
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat melancarkan kampanye pemboman untuk menjatuhkan rezim Iran. Pemimpin tertinggi Iran tewas, bersama sekitar 137 pejabat papan atas lainnya. Pape menggambarkan skala kehancuran itu dengan analogi yang tajam: bayangkan jika presiden Amerika, ibu negara, separuh kabinet, seluruh pucuk pimpinan Pentagon dan CIA, serta sepertiga anggota Kongres tewas dalam satu rangkaian serangan. Itulah yang terjadi pada Iran dalam hitungan minggu pertama perang.
Namun rezim itu tetap berdiri. Bagi banyak orang, termasuk sejumlah kalangan militer, ini adalah kejutan besar. Bagi Pape, ini justru sesuai dengan pola sejarah yang sudah ia teliti selama dua dekade: kekuatan udara semata tidak pernah berhasil menumbangkan sebuah rezim, sejak Perang Dunia I hingga sekarang.
Karena strategi pemboman kilat gagal menjatuhkan rezim, Amerika beralih ke pendekatan berikutnya:
- Enam minggu kampanye pemboman lanjutan, sebagai bentuk hukuman.
- Blokade selama dua bulan, upaya Amerika mengambil alih kendali Selat Hormuz untuk memaksa Iran menyerah.
Namun di sinilah titik balik yang menentukan arah seluruh perang terjadi. Pada 2–3 Maret 2026, hanya beberapa hari setelah pemboman regime change dimulai, Iran justru berhasil menguasai Selat Hormuz. Lalu lintas kapal berhenti total dan hanya dibuka kembali dalam skala sangat terbatas sejak saat itu. Amerika Serikat terjebak pada dilema yang, menurut Pape, tidak pernah benar-benar terpecahkan sejak awal Maret: merebut kembali Hormuz secara paksa, atau membiarkan Iran menguasainya tanpa batas waktu.
Nota Kesepahaman yang Ditandatangani, lalu Dikhianati dalam 48 Jam
Beberapa waktu sebelum wawancara ini, Wakil Presiden JD Vance sempat mengumumkan hampir tercapainya kesepakatan damai berupa nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MOU) 14 poin dengan Iran. Presiden Trump menandatanganinya. Namun dalam waktu kurang dari dua hari, pemerintahannya sendiri mulai melanggar pasal-pasalnya, dan perang pun berkobar lagi.
Menurut Pape, kegagalan ini berakar pada kesalahan pemahaman mendasar dari pihak Amerika. Vance mendekati negosiasi ini sebagai transaksi bisnis: Amerika menawarkan manfaat ekonomi, termasuk janji dana sebesar 300 miliar dolar, sebagai imbalan atas dibukanya kembali Selat Hormuz. Pendekatan itu mungkin efektif dalam bisnis properti, tetapi keliru total dalam politik kekuatan besar (great power politics). Yang dipertaruhkan bukan uang, melainkan keseimbangan kekuasaan regional.
Tiga pasal dalam dokumen itu, menurut analisis Pape, mengungkap tujuan sesungguhnya Iran:
- Pasal 1 — menetapkan wilayah strategis Iran, termasuk sabuk pengaruh yang membentang dari Mediterania hingga Laut Merah dan Teluk, melibatkan Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman sebagai instrumen kekuatan.
- Pasal 5 — memberi Iran kendali penuh atas Selat Hormuz, termasuk hak menentukan tarif kapal secara sepihak bersama Oman, tanpa keterlibatan Amerika sama sekali, dan tanpa batas waktu.
- Pasal 11 — mencairkan aset Iran yang dibekukan Amerika selama puluhan tahun, dengan kewenangan penuh di tangan Iran untuk menggunakannya, termasuk untuk kepentingan militer.
Dengan kata lain, dokumen yang ditandatangani Trump sesungguhnya adalah peta jalan bagi Iran untuk menjadi hegemon regional, kekuatan paling dominan di Teluk Persia dan Timur Tengah. Iran menandatanganinya tanpa ragu karena isinya justru menguntungkan mereka. Trump sendiri mengakui secara terbuka bahwa ia menandatangani nota itu karena cadangan minyak dunia diperkirakan habis dalam empat minggu.
Tetapi begitu Trump mengakui hal itu, pemerintahannya langsung berusaha membatalkan kekalahan strategis tersebut: membangun kesepakatan militer dengan Lebanon yang bertentangan dengan Pasal 1, mendorong kapal melintasi Hormuz tanpa koordinasi dengan Iran (melanggar Pasal 5), dan mensyaratkan dana yang dicairkan hanya boleh dibelanjakan untuk gandum Amerika (melanggar Pasal 11). Iran membalas dengan menyerang kapal-kapal di selat tersebut. Perang pun kembali pecah, kali ini dengan intensitas yang terus meningkat.
Mengapa Ancaman Drone dan Rudal Iran Begitu Sulit Dilumpuhkan
Salah satu pertanyaan publik yang paling sering muncul: jika Amerika sudah menghancurkan sebagian besar angkatan laut, udara, dan radar Iran, mengapa Iran masih mampu menyerang pangkalan dan kapal Amerika?
Jawaban Pape sederhana namun mengungkap skala persoalan yang sesungguhnya. Iran memasuki perang ini dengan puluhan ribu drone dan rudal, termasuk rudal balistik jarak menengah, rudal jelajah yang terbang rendah menyusuri permukaan laut, dan drone jenis Shahed-136. Bahkan setelah sebagian besar dihancurkan, sisa yang ada tetap cukup untuk melancarkan serangan saturasi, yakni membanjiri sistem pertahanan udara Amerika dengan jumlah yang melebihi kapasitas penangkalnya.
Persoalannya bukan hanya jumlah, melainkan geografi. Wilayah tempat drone-drone itu bisa disembunyikan mencakup radius 500 mil, area pegunungan yang luasnya satu setengah kali luas negara bagian California. Ini bukan soal mencari jarum dalam tumpukan jerami, melainkan mencari ribuan drone kecil dalam medan tiga dimensi seluas itu, sambil Iran terus memproduksi unit baru. Data bocoran dari Pentagon menyebut Iran memproduksi sekitar 55.000 drone per tahun untuk dipasok ke Rusia—artinya ribuan unit baru setiap bulan.
Ada pula faktor ekonomi yang jarang dibahas: menghancurkan sebagian drone tidak cukup untuk meyakinkan perusahaan pelayaran bahwa kapal mereka aman. Satu kapal tanker beserta muatan minyaknya bernilai sekitar 300 juta dolar. Tak ada perusahaan yang mau mempertaruhkan aset sebesar itu, ditambah nyawa awak kapalnya, hanya berdasarkan klaim bahwa "sebagian besar" ancaman sudah dilumpuhkan.
Dunia di Ambang Krisis Energi
Sejak Iran menguasai Hormuz, sekitar 7 juta barel minyak per hari dialihkan melalui jalur pipa alternatif di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Cadangan minyak strategis Amerika Serikat, bersama 32 negara anggota Badan Energi Internasional, turut dikeluarkan untuk meredam lonjakan harga—totalnya sekitar 400 juta barel dari cadangan darurat dunia. Namun cadangan itu tidak bisa diisi ulang secepat ia dikuras. Per Juli 2026, cadangan strategis Amerika tinggal sekitar 300 juta barel, level terendah sejak 1983, lebih dari empat dekade.
Persoalan tidak berhenti di minyak mentah. Sebagian besar kapasitas kilang minyak dunia—tempat minyak mentah diolah menjadi bensin dan solar—juga berada di kawasan Teluk Persia. Ditambah serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia, kapasitas pengolahan global diperkirakan tertekan hingga sekitar 40 persen. Dan pada hari wawancara ini berlangsung, milisi Houthi—sekutu Iran di Yaman—menutup jalur pipa Laut Merah yang selama ini menjadi rute alternatif minyak Arab Saudi. Menurut Pape, inilah skenario mimpi buruk yang selama ini ia khawatirkan: dunia benar-benar berada di ambang kehabisan minyak dalam hitungan minggu.
Konsep Inti: Jebakan Eskalasi
Untuk memahami ke mana perang ini bergerak, Pape menggunakan kerangka yang ia sebut escalation trap atau jebakan eskalasi, digambarkan sebagai piramida terbalik yang memburuk seiring naik ke atas:
- Tahap 1 — Serangan terbatas: pemboman kepemimpinan untuk menjatuhkan rezim.
- Tahap 2 — Pembalasan: Iran merebut Hormuz, disusul pemboman enam minggu dan blokade dari pihak Amerika.
- Tahap 3 — Krisis ekonomi: titik kritis saat ini, di mana pilihannya adalah menerima kekalahan strategis (membiarkan Iran menguasai Hormuz permanen) atau menggunakan kekuatan militer secara langsung untuk merebutnya kembali.
- Tahap 4 — Perang abadi (forever war): eskalasi penuh yang diperkirakan berlanjut hingga 2027 jika opsi militer di tahap tiga gagal, sebagaimana kemungkinan besar akan terjadi.
Pape menegaskan bahwa tidak ada lagi jalan keluar yang mulus. Kesempatan itu hilang sejak awal Maret, ketika ia sendiri menyarankan Trump untuk mendeklarasikan kemenangan dan mundur setelah membunuh pemimpin tertinggi Iran, lalu kembali ke meja perundingan soal program nuklir. Saran itu tidak diambil. Nasihat berikutnya, menahan langkah Israel agar tidak memperluas front ke Lebanon, juga terlambat dijalankan. Kini, kata Pape, semua opsi yang tersisa datang "sehari terlambat dan sepeser kurang".
Operasi Darat Terbatas: Peluang 70 Persen
Pape memperkirakan kemungkinan Amerika melancarkan operasi darat terbatas di Iran kini mencapai sekitar 70 persen, bisa terjadi dalam hitungan minggu, bahkan mungkin akhir pekan itu juga. Sekitar 8.000 tentara—gabungan marinir dan pasukan lintas udara ke-82—telah dikonsentrasikan di Teluk Oman, bukan untuk melintasi Hormuz, melainkan sebagai kekuatan yang mampu merebut sepotong wilayah pesisir tenggara Iran yang jarang penduduk, seperti Chahbahar atau Jask.
Tujuannya bukan membuka kembali Hormuz secara nyata, melainkan kemenangan simbolis: merebut dan menahan sepetak wilayah selama beberapa minggu, cukup untuk diklaim sebagai bukti bahwa Trump "melawan balik" menjelang pemilu paruh waktu (midterm). Pape menegaskan ia tidak mendukung opsi ini—ia hanya menjelaskan logika di baliknya, karena jika bukan untuk tujuan itu, tidak ada alasan pasukan tersebut ditempatkan di sana.
Risiko dari langkah ini besar. Ratusan tentara Amerika berpotensi tewas dalam hitungan minggu. Namun secara politik, hal itu belum tentu melemahkan dukungan terhadap perang. Data yang dikutip dalam wawancara menunjukkan dukungan publik Amerika secara keseluruhan terhadap perang ini hanya berkisar 27–34 persen, sementara mayoritas—53–57 persen—menentang. Namun di kalangan pendukung MAGA, dukungan terhadap perang mencapai 77–85 persen, dan yang menentang hanya 5–14 persen. Kematian tentara, menurut Pape, justru cenderung mengeraskan dukungan kelompok ini dalam jangka pendek, karena mempertanyakan pengorbanan itu sama dengan menyebut kematian mereka sia-sia.
Ancaman Paling Serius: Serangan Berkorban Massal
Ketika ditanya apa yang paling ia khawatirkan dalam beberapa minggu ke depan, jawaban Pape tegas: serangan berkorban massal terhadap tentara atau warga sipil Amerika. Ia menyoroti dua skenario spesifik:
Pertama, serangan rudal balistik bertubi-tubi terhadap kapal perang Amerika di Teluk Oman. Iran telah menunjukkan kemampuan penargetan presisi yang mengkhawatirkan, dan belum jelas apakah mereka mendapat bantuan pelacakan dari Tiongkok atau Rusia.
Kedua—dan ini yang menurutnya lebih berbahaya secara jangka panjang—terorisme bunuh diri. Selama dua puluh lima tahun meneliti serangan bunuh diri sejak peristiwa 9/11, Pape menemukan bahwa faktor risiko terbesar bagi lahirnya kampanye terorisme bunuh diri bukanlah pemboman dari udara, melainkan kehadiran pasukan darat yang menguasai wilayah yang dianggap berharga oleh kelompok tertentu. Riset yang sama pernah memprediksi secara akurat bahwa invasi dan pendudukan Irak akan memicu kampanye terorisme bunuh diri terbesar dalam sejarah modern—dan prediksi itu terbukti benar.
Logikanya: membunuh dari udara memang menewaskan orang, tetapi yang memicu bom bunuh diri bukan soal jumlah korban, melainkan kontrol politik atas wilayah. Begitu pasukan darat mengambil alih wilayah, itu dianggap sebagai pelanggaran yang jauh lebih mendalam ketimbang serangan udara. Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran belakangan ini, yang menjanjikan "pelajaran yang tak terlupakan" bagi Amerika, disebut Pape mengingatkannya pada retorika pemimpin ISIS yang dulu mendorong serangan-serangan terinspirasi seperti yang terjadi di Paris (November 2015) dan San Bernardino—yang tidak memerlukan komando langsung, cukup terinspirasi oleh seruan pemimpin.
Serangan semacam ini, kata Pape, bisa terjadi di mana saja: pesawat komersial, kawasan bisnis di Aqaba (Yordania), atau lokasi lain dengan konsentrasi tinggi warga Amerika maupun Barat. Beberapa negara Eropa, termasuk Jerman dan Inggris, sudah memerintahkan evakuasi kedutaan mereka, dan Departemen Luar Negeri Amerika telah mengeluarkan imbauan bagi warganya untuk mulai meninggalkan kawasan tersebut.
Politik Domestik: Pemilu Paruh Waktu dan Bayang-Bayang Krisis Konstitusional
Pape menekankan bahwa nasib perang ini akan ditentukan sebagian besar oleh kalkulasi politik domestik Amerika, bukan semata pertimbangan strategis di lapangan. Pemilu paruh waktu (midterm) yang berlangsung sekitar tiga bulan setelah wawancara ini akan sangat dipengaruhi oleh harga bensin—jika krisis ekonomi akibat perang benar-benar terjadi tanpa disertai serangan berkorban massal, kemungkinan besar Partai Republik akan kalah dan kehilangan kendali Kongres.
Namun jika serangan berkorban massal justru terjadi, dinamika ini bisa berbalik: dukungan terhadap perang—dan terhadap Trump serta Partai Republik—berpotensi menguat, karena publik cenderung merapatkan barisan menghadapi ancaman eksternal.
Jika Demokrat memenangkan salah satu atau kedua kamar Kongres, mereka memiliki wewenang konstitusional untuk memutus pendanaan perang, sebagaimana pernah dilakukan Kongres pada 1974 untuk mengakhiri keterlibatan Amerika di Vietnam. Namun Trump memiliki sejumlah cara untuk melawan langkah itu: memveto resolusi kekuasaan perang (yang memerlukan mayoritas dua pertiga di kedua kamar untuk dianulir), mengklaim kewenangan konstitusional Pasal II sebagai panglima tertinggi, atau menggunakan wewenang transfer anggaran darurat untuk tetap menjalankan operasi militer meski tanpa persetujuan baru dari Kongres. Skenario inilah yang oleh Pape disebut berpotensi memicu krisis konstitusional—dan menjadi alasan mengapa ia menyebut pemilu mendatang sebagai "pemilu paling berbahaya dalam hidup kita".
Pape menaruh perhatian khusus pada risiko benturan antara dua garis krisis yang berjalan bersamaan: krisis internasional (perang Iran) dan krisis politik domestik Amerika yang semakin keras. Ia menyebut kombinasi ini berpotensi menyerupai kekacauan dekade 1960-an—era demonstrasi antiperang besar-besaran, aksi kelompok bawah tanah bersenjata, dan gelombang pembunuhan tokoh publik. Skenario ini, menurutnya, sudah ia peringatkan sejak 2024 sebagai "mimpi buruk" yang paling ia khawatirkan: bertemunya krisis internasional dengan tahun pemilu.
Bagaimana Sikap Tiongkok dan Rusia
Menurut Pape, Tiongkok tidak menginginkan ketidakstabilan global, tetapi juga tidak ingin melihat Iran hancur total—karena itu akan mengurangi pengaruh Tiongkok di kawasan tersebut. Presiden Xi dilaporkan memperingatkan Trump agar tidak jatuh ke dalam "jebakan Thucydides", yakni risiko sebuah kekuatan yang menurun melancarkan perang preventif melawan kekuatan yang sedang naik. Tiongkok sempat menghentikan pembelian 5 juta barel minyak per hari dari Iran setelah pertemuan puncak dengan Trump—langkah yang kemudian dibalas Trump dengan tuduhan bahwa Tiongkok mencampuri pemilu Amerika.
Rusia, di sisi lain, melihat momentum ini sebagai peluang untuk menekan Eropa secara ekonomi. Pape mencatat Ukraina justru semakin menekan jalur pasokan Rusia ke Krimea, dan memperkirakan Putin akan meningkatkan tekanan terhadap Eropa tepat pada musim gugur, bersamaan dengan memburuknya krisis ekonomi akibat Iran—kombinasi yang akan mempersulit Eropa memenuhi komitmen bantuan senilai 80 miliar dolar kepada Ukraina.
Penutup: Harapan yang Menjauh
Di penghujung wawancara, Pape menyampaikan sesuatu yang jarang diungkapkan analis kebijakan luar negeri secara terbuka: ia memiliki mahasiswa keturunan Iran di University of Chicago yang keluarganya masih tinggal di Iran. Kepada mereka, ia harus mengatakan bahwa harapan nyata bagi rakyat Iran—yang berjumlah lebih dari 90 juta jiwa, lebih besar dari populasi Inggris—kemungkinan baru akan terwujud lima hingga sepuluh tahun lagi. Dan setiap eskalasi baru, katanya, hanya mendorong angka itu semakin mendekati sepuluh.
Ia juga menegaskan bahwa jika Trump menghubunginya untuk meminta saran tentang apa yang harus dilakukan dalam tiga bulan ke depan menjelang pemilu, jawabannya sederhana: jangan hubungi saya. Nasihat yang bisa ia berikan bukan tentang bagaimana memenangkan pemilu, melainkan bagaimana membangun keseimbangan kekuatan yang lebih stabil di kawasan itu selama bertahun-tahun ke depan—sebuah agenda yang, menurutnya, sedang diabaikan justru karena tekanan untuk meraih kemenangan elektoral jangka pendek.
Tulisan ini disusun berdasarkan transkrip wawancara Robert Pape (Direktur CPOST, University of Chicago) bersama Steven Bartlett di podcast The Diary of a CEO, salah satu dari rangkaian wawancara sejak Maret 2026 yang membahas perkembangan perang Amerika Serikat–Iran.

Comments
Post a Comment