Catatan dari Teheran dan Masyhad: Apa yang Saya Saksikan di Balik Pemakaman Seorang Pemimpin yang Dibunuh


source: https://youtu.be/sWfCm1pPlLQ

Catatan: Esai berikut adalah rekonstruksi tertulis bergaya orang-pertama, disusun berdasarkan pernyataan lisan seorang jurnalis independen dalam sebuah wawancara podcast tentang pengalamannya meliput pemakaman kenegaraan pemimpin tertinggi Iran. Ini bukan naskah yang diterbitkan atau ditulis sendiri oleh narasumber tersebut, melainkan penyusunan ulang argumen dan observasinya ke dalam format esai. Isinya mencerminkan satu sudut pandang partisan dan tidak diverifikasi silang dengan sumber independen lain.


Saya Datang untuk Meliput Pemakaman, dan Pulang dengan Pertanyaan yang Jauh Lebih Besar

Ini kunjungan kedua saya ke Iran dalam enam bulan terakhir. Yang pertama, sepuluh hari sebelum pengeboman terjadi pada Februari lalu, saya sudah bisa merasakan bahwa perang akan datang. Rasanya seluruh negeri tahu itu. Kunjungan kedua ini berbeda: saya datang untuk menyaksikan pemakaman kenegaraan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, yang terbunuh dalam serangan pada 28 Februari — bersama, di antara korban lainnya, seorang cucu perempuannya yang baru berusia empat belas bulan.

Yang pertama kali mengejutkan saya bukan kesedihannya, melainkan skalanya. Dalam tradisi Islam, jenazah biasanya dimakamkan segera setelah wafat. Prosesi ini justru tertunda lama, dan begitu saya tiba, saya paham sebabnya: logistik acara ini sedemikian besar sehingga tidak mungkin dijalankan cepat. Ini bukan peristiwa satu hari di satu kota. Ini berlangsung enam hari, melintasi hampir seluruh kota besar Iran, bahkan jenazahnya sempat dibawa ke Karbala dan Najaf di Irak sebelum kembali untuk mencapai puncaknya di Masyhad — kota suci yang juga menjadi kampung halaman sang pemimpin.

Berapa banyak orang yang turun ke jalan? Menurut angka yang bahkan diakui Financial Times, sekitar lima belas juta orang memenuhi jalanan Teheran selama Sabtu hingga Senin. Perkiraan paling konservatif untuk hari terakhir saja adalah sepuluh juta. Secara nasional, gabungan partisipasi dalam berbagai bentuk disebut mendekati setengah populasi negara itu. Saya minta Anda berhenti sejenak dan membandingkan angka ini dengan segala yang selama ini diceritakan kepada kita di Barat tentang betapa lemahnya dukungan terhadap pemerintah dan kepemimpinan Iran.

Narasi yang Sudah Ditulis Sebelum Perangnya Dimulai

Saya sudah mendengar sendiri bagaimana perang ini dijual kepada publik Barat sebelum ia benar-benar meletus. Ada rekaman seorang senator Amerika, berbicara santai dari dalam mobil, mengatakan mereka hanya ingin "beberapa kota jatuh" agar rakyat Arab bisa dilibatkan dan semuanya bergerak cepat. Saya sudah mendengar propaganda yang mengklaim bahwa pemerintah Iran membantai lima puluh ribu warganya sendiri dalam hitungan hari. Klaim itu, sejauh yang saya saksikan dan pahami di lapangan, adalah salah satu kampanye disinformasi paling keji yang pernah saya temui — dan ia mengikuti pola yang sudah sangat familiar: bayi-bayi inkubator versi Kuwait dulu, tuduhan pemenggalan bayi dan kekerasan seksual massal setelah 7 Oktober sekarang. Semua dirancang untuk satu tujuan: membangun pembenaran moral bagi perang yang sudah direncanakan.

Yang membuat propaganda ini efektif adalah kelenturannya. Ia bisa merangkul kelompok konservatif anti-perang yang menentang keterlibatan militer AS atas dasar konstitusional, sekaligus merangkul kalangan liberal yang menentang Trump secara personal — namun keduanya tetap dibiarkan percaya bahwa rezim Iran memang layak dijatuhkan, karena "mereka membunuh rakyatnya sendiri". Argumen yang sama persis pernah dipakai untuk Irak. Ini bukan kebetulan. Ini keahlian.

Apa yang Saya Lihat Sendiri, Sebagai Orang Amerika, Berdiri Sendirian di Tengah Jutaan Orang Iran

Saya berjalan di jalanan Teheran — sering kali benar-benar sendirian sebagai orang Amerika — dikelilingi jutaan warga Iran yang meneriakkan yel-yel, membawa poster merah menuntut pembalasan, dan tak sedikit yang membawa tulisan yang secara terang-terangan menyerukan kematian bagi Trump. Yang mengejutkan saya bukan intensitasnya, melainkan siapa yang menyuarakannya: perempuan lanjut usia, anak-anak muda, dan — ini yang paling mencolok — orang-orang yang dulu saya kenal cenderung liberal dan pro-Barat, kini justru paling keras menolak segala bentuk negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.

Saya punya teman-teman Iran yang jujur tidak menyukai pemerintah mereka sendiri. Tapi saya mendengar langsung dari beberapa dari mereka sesuatu yang menurut saya menjadi inti dari semua ini: selama tiga puluh tahun mereka diberi tahu bahwa Amerika akan menyerang dan berusaha membunuh mereka. Sekarang itu benar-benar terjadi. Mereka tidak bisa lagi mengatakan pemerintah mereka salah — pemerintah itu justru terbukti benar. Bahkan bila mereka masih ingin rezim ini berubah, mereka tidak akan pernah berpihak pada pihak yang mengebom keluarga mereka sendiri. Ironisnya, kombinasi kebijakan Trump dan Netanyahu inilah yang justru menyatukan sebuah negara yang selama puluhan tahun coba dipecah oleh miliaran dolar dana oposisi Barat.

Bahkan kudeta ekonomi yang dibanggakan Menteri Keuangan AS — menjatuhkan nilai rial untuk memancing rakyat turun ke jalan — pada akhirnya berbalik. Sebelumnya, banyak yang menyalahkan pemerintah atas kondisi ekonomi yang buruk. Sekarang, dengan blak-blakan mengaku sengaja menyabotase ekonomi Iran, pemerintahan Trump justru menghancurkan argumen oposisi domestik sendiri.

Generasi yang Kini Punya Ingatannya Sendiri

Ada yang berubah secara generasional di sini, dan menurut saya konsekuensinya akan bertahan puluhan tahun. Generasi yang mengalami langsung Perang Iran–Irak semakin menua, dan pengalaman hidup mereka — pengeboman, museum perang di Teheran, kisah-kisah tentang rudal Scud yang jatuh — semakin sulit diwariskan sebagai sesuatu yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar dipelajari. Sekarang, generasi muda Iran punya pengalamannya sendiri: konfrontasi langsung dengan kekuatan militer penuh Amerika Serikat dan Israel. Ini, menurut saya, akan menghidupkan kembali semangat revolusioner masyarakat Iran untuk setidaknya lima puluh tahun ke depan. Ini bukan sesuatu yang direncanakan oleh para perumus strategi di Washington. Sebaliknya, saya cukup yakin mereka membayangkan Iran akan runtuh seperti rumah kartu, atau setidaknya tercabik oleh perang saudara. Yang terjadi justru sebaliknya: konsolidasi.

Slogan yang Tidak Bisa Direduksi Jadi Propaganda Semata

Di mana-mana — dalam bahasa Persia, Arab, bahkan Inggris — saya melihat satu slogan berulang: "kita harus bangkit". Saya tanya kepada banyak orang apa maksudnya, dan saya mendapat hampir sepuluh jawaban berbeda. Islam yang harus bangkit? Islam Syiah? Iran sebagai negara? Umat yang harus menghadapi penindasan? Bagi saya, keragaman tafsir inilah yang justru membantah klaim bahwa ini sekadar propaganda rezim yang seragam. Propaganda tidak biasanya melahirkan sepuluh interpretasi berbeda dari rakyatnya sendiri.

Slogan ini berakar pada narasi Imam Husein — kisah tentang bangkit melawan penindas meski harus mengorbankan nyawa demi mereka yang tak mampu berjuang sendiri. Ini bukan sekadar retorika keagamaan. Ini tertanam dalam konstitusi mereka: Pasal 154, yang secara eksplisit mengamanatkan pembelaan terhadap kaum tertindas di mana pun di dunia — bukan hanya sesama Syiah, bukan hanya sesama Muslim, tapi juga Kuba, Venezuela, Korea Utara, dan tentu saja Palestina, yang penduduknya justru mayoritas Sunni-Arab-Levant, bukan Persia. Ada prinsip di sini yang melampaui sekat agama, meski agama yang menjadi wadah untuk mengkristalkannya.

Saya sempat mengunjungi salah satu kediaman pemimpin yang wafat di Masyhad. Perpustakaannya penuh sastra klasik Barat — Victor Hugo, karya-karya Eropa dan Amerika. Ia dikenal hidup sangat sederhana, memakai jubah lama yang rumbainya sudah lusuh, tidak pernah membeli pakaian baru. Seorang intelektual, akademisi, sekaligus penyair — dan justru dari orang seperti inilah slogan "kita harus bangkit" itu lahir.

Kepemimpinan yang Tidak Bisa Menampakkan Diri

Putra pemimpin yang wafat telah dinominasikan sebagai penerus oleh dewan ahli dan diterima rakyat, namun belum pernah tampil di publik. Barat menyebar spekulasi liar — bahwa ia sudah mati, cacat, atau apa pun yang bisa merendahkannya. Alasan sesungguhnya, menurut pengamatan saya di lapangan, jauh lebih sederhana dan mengerikan: begitu ia menampakkan diri, ia akan menjadi target utama serangan udara berikutnya. Rakyat Iran memahami dan menerima ini tanpa perdebatan berarti. Yang menarik, absennya sosok pemimpin secara fisik justru tidak melemahkan kohesi — solidaritas terhadap kepemimpinan baru ini justru semakin kuat.

Sistem yang Sering Disalahpahami di Barat

Barat kerap menggambarkan sistem Iran sebagai struktur otoriter dari atas ke bawah, di mana pemimpin tertinggi memutuskan segalanya dan rakyat sekadar mengikuti. Yang saya saksikan justru sebaliknya. Perdebatan politik di Iran sangat sengit, kadang tidak santun, melibatkan faksi-faksi yang berhadapan keras soal arah negara, isu nuklir, hingga respons terhadap perang. Ada mekanisme penyaringan konsensus yang melibatkan jaringan lembaga swadaya masyarakat dan mantan pejabat senior — semacam dewan penjaga informal — yang menyerap pandangan dari berbagai lapisan sebelum kebijakan diputuskan. Prosesnya memang lebih lambat dibanding sistem satu-komando, tapi ia nyata. Saya membandingkannya dengan Rusia, yang punya jaringan institusional keamanan nasional serupa: canggih, lambat, tapi otentik.

Dan sungguh ironis rasanya mendengar tuduhan bahwa Iran adalah kultus keagamaan yang terobsesi eskatologi, ketika tuduhan itu justru datang dari pejabat yang bangga mengenakan simbol salib tentara salib di dadanya. Setiap tuduhan, dalam banyak kasus, adalah pengakuan.

Perang yang Melampaui Sekat Sektarian

Yang mengejutkan saya dalam interaksi dengan jurnalis dari Pakistan, Kashmir, dan bahkan jurnalis Kristen dari Lebanon: dukungan terhadap Iran dalam episode ini banyak datang bukan atas dasar afiliasi Syiah, melainkan atas dasar moral — kesediaan Iran menanggung risiko demi Palestina dan Lebanon. Ini melampaui pembelahan Sunni–Syiah yang selama puluhan tahun sengaja dipupuk oleh kekuatan kolonial dan aktor regional tertentu sebagai instrumen geopolitik. Bagi banyak jurnalis, ini membebaskan mereka dari kewajiban menyaring cerita lewat kacamata sektarian — ceritanya menjadi jauh lebih sederhana dan jelas.

Kemandirian yang Tidak Bisa Dibeli dengan Sanksi

Dari seluruh kawasan Asia Barat yang pernah saya kunjungi, saya belum pernah melihat negara — dari Iran ke arah barat hingga Mediterania — yang benar-benar tidak mengimpor tenaga kerja asing dalam skala besar seperti negara-negara Teluk. Semua lapisan masyarakat Iran bekerja sendiri, dari level bawah hingga atas. Pendidikan tinggi menjadi aspirasi universal, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Hasilnya: kapasitas mandiri dalam produksi rudal, peluncuran satelit, farmasi, konstruksi, hingga arsitektur. Bandingkan dengan negara-negara Teluk yang mengimpor hampir seluruh tenaga kerja kasar dan manajemen menengahnya. Tanpa sanksi, saya sulit membayangkan negara mana pun di kawasan yang bisa bersaing dengan Iran dalam modal manusia.

Strategi yang Tidak Pernah Dipahami Sekolah Hubungan Internasional Barat

Iran menjalankan strategi yang, menurut saya, tidak diajarkan di sekolah hubungan internasional mana pun di Barat: menahan serangan awal, membalas secara konvensional untuk memulihkan resiprositas, lalu tetap tenang sambil mendesentralisasi rantai komando militer sehingga setiap komandan lapangan bisa memilih sasarannya sendiri tanpa perlu otorisasi terpusat. Iran telah menjalankan model ini selama lima puluh tahun. Bahwa Barat baru menyadarinya sekarang menunjukkan betapa dalamnya kesenjangan pemahaman mereka soal negara ini.

Kesimpulan Saya

Amerika Serikat, dalam paradoks yang jarang saya lihat begitu telanjang, telah membunuh seorang pemimpin lanjut usia yang sangat dihormati, memaksa masyarakatnya untuk berduka sekaligus menyaksikan kebangkitan kembali semangat revolusioner yang mereka kira sudah usang, dan pada saat bersamaan menghancurkan sendiri legitimasi oposisi domestik yang selama puluhan tahun coba dibangunnya dengan miliaran dolar. Kalau kepala ular yang ingin dipenggal, yang justru terjadi adalah retakan-retakan yang dulu ada di masyarakat Iran kini justru tertutup rapat.

Saya tidak tahu ke mana semua ini akan bermuara dalam beberapa tahun ke depan. Yang saya tahu, dari apa yang saya saksikan sendiri di jalanan Teheran dan di keheningan berkabung Masyhad menjelang fajar: ini bukan negara yang sedang runtuh. ini negara yang, dalam banyak hal, sedang menemukan kembali dirinya sendiri — di bawah pengeboman, di bawah sanksi, dan di bawah tatapan dunia yang selama ini menolak melihatnya sebagaimana adanya.


Esai ini merupakan penyajian ulang dari pernyataan lisan dalam sebuah wawancara podcast, ditulis dalam format esai orang-pertama untuk kejelasan naratif. Klaim-klaim di dalamnya adalah opini dan interpretasi narasumber asli, belum diverifikasi silang dengan sumber independen, dan beberapa di antaranya (misalnya penolakan terhadap dokumentasi kekerasan seksual pasca 7 Oktober 2023) bertentangan dengan temuan badan-badan investigasi independen termasuk PBB. 

Comments

Popular posts from this blog

Koleksi Perintah Kunci Prompt ChatGPT untuk Mengubah Teks Menjadi Gambar Infografis

Panduan Lengkap Membangun Channel YouTube "Talking-Head" dari Nol hingga Menghasilkan Uang

Perkara-Perkara yang Dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ atas Umatnya

Ketika Kecerdasan Buatan (AI) Mulai Bekerja Sama untuk Mencurangi Manusia

Yang Maha Ada: Sebuah Telaah Ontologis tentang Tuhan, Keberadaan, dan Batas Definisi